Mewujudkan Entrepreneurial Campus di Perguruan Tinggi
Adalah Sebuah Keharusan
 |
| Oleh : H. Heri Kuswara, M.Kom* | |
Tentunya kita ketahui bersama, bahwa salah satu syarat utama kemajuan dan kemakmuran suatu bangsa terletak pada seberapa banyak masyarakatnya yang menjadi pengusaha ? semakin banyak prosentase pengusaha disuatu negara tentunya semakin maju dan makmur pula masyarakat dinegara tersebut, sebaliknya jika prosentase pengusahanya sangat sedikit maka faktanya dapat kita lihat bersama hampir seluruh dari warga masyarakat di negara tersebut akan menjadi pekerja dan buruh dari para entrepreneur asing yang hadir mengeksploitasi seluruh potensi sumber daya dan kekayaan bangsa. Itulah sebabnya hingga detik ini kondisi mayoritas bangsa ini jauh dari kemakmuran dan kesejahteraan.
Peran pengusaha dalam menentukan kemajuan suatu bangsa/negara telah dibuktikan oleh beberapa negara maju seperti amerika, jepang, plus tetangga terdekat kita yaitu singapura dan malaysia. Di amerika sampai saat ini sudah lebih dari 12 persen penduduknya menjadi entrepreneur, dalam setiap 11 detik lahir entrepreneurbaru dan Data menunjukkan 1 dari 12 orang Amerika terlibat langsung dalam kegiatan entrepreneur. Itulah yang menjadikan amerika sebagai negara adi kuasa dan super power. Selanjutnya Jepang lebih dari 10 persen penduduknya sebagai wirausaha dan lebih dari 250 perusahaan jepang skala kecil, menengah dan besar bercokol dibumi kita ini. Padahal jepang mempunyai luas wilayah yang sangat kecil dan sumber daya alam yang kurang mendukung (kurang subur) namun dengan semangat dan jiwa entrepreneurshipnya menjadikan jepang sebagai negara terkaya di Asia.
Mengintip sedikit jumlah pengusaha tetangga terdekat yang satu rumpun dengan kita yaitu singapura dan malaysia, fakta menyebutkan lebih dari 7.2 persen pengusaha singapura dan lebih dari 3 persen pengusaha malaysia yang menjadikan pertumbuhan berbagai bidang terutama pertumbuhan ekonomi semakin jauh meninggalkan kita. Tahukah rekan-rekan ? kita hanya memiliki 0.18 persen pengusaha alias kurang dari 1 persen dari jumlah penduduk saat ini. Padahal menurut Ciputra setidaknya dibutuhkan minimal 2 persen pengusaha untuk menjadikan bangsa ini bangkit dari keterpurukan.
Melihat kenyataan diatas, berbagai solusi wajib diambil baik oleh pemerintah maupun komponen masyarakat untuk menciptakan lahirnya entrepreneur-entrepreneursukses yang diharapkan mampu mengangkat bangsa ini dari berbagai keterpurukan dan ketidakpastian. Perguruan tinggi yang notabene sebagai garda terdepan dalam memajukan bangsa ini harus mampu memberikan solusi dengan berbagai formula dan strategi untuk mewujudkan mahasiswa-mahasiswa yang tidak hanya menjadi seorang job creator namun pula menjadikan mahasiswa sebagai agen of change dalam menjadikan entrepreneurship sebagai pilihan terbaik dalam membangun bangsa ini.
Penting sepertinya kita mencontoh perguruan tinggi Amerika seperti di MIT (Massachusette Institute Technology) dimana dalam kurun waktu tahun 1980-1996 ditengah pengangguran terdidik yang semakin meluas dan kondisi ekonomi, sosial politik yang kurang stabil, MIT merubah arah kebijakan perguruan tingginya dari high Learning Institute dan Research University menjadi Entrepreneurial University. Meskipun banyak pro kontra terhadap kebijakan tersebut namun selama kurun waktu diatas (16 tahun) MIT mampu membuktikan lahirnya 4 ribu perusahaan dari tangan alumni-alumninya dengan menyedot 1.1 juta tenaga kerja dan omset sebesar 232 miliar dolar pertahun. Sungguh prestasi yang amat sangat spektakuler sehingga merubah kondisi Amerika menjadi negara super power. Kebijakan inilah yang selanjutnya ditiru dan diikuti oleh banyak perguruan tinggi sukses didunia ini.
Di Indonesia, usaha-usaha untuk menanamkan jiwa dan semangat kewirausahaan diperguruan tinggi terus digalakan dan ditingkatkan dengan berbagai metode dan strategi yang membuat mahasiswa tertarik dan tidak ada rasa terbebani didalam dirinya. Setidaknya ada dua cara yang dilakukan oleh perguruan tinggi di Indonesia dalam meningkatkan gema kewirausahaan dikampus, yaitu :
1. Pendirian Pusat kewirusahaan Kampus seperti BSI Entrepreneruship Center (BEC) di BSI, Pusat Inkubator Bisnis ITB, Koperasi kesejahteraan Mahasiswa (KOKESMA) ITB, Community Business and Entrepreneurship Development (CDED) di STMB Telkom, Community Entrepreneur Program (CEP) UGM, Center for Entrepreneurship Development and Studies (CEDS) di UI, UKM Center di FEUI, Center for Entrepreneurship, Change, and Third Sector (CECT) di Universitas Tri Sakti, Binus Entrepreneurship Center (BEC) di Binus, dan banyak lagi. Melalui pusat kewirausahaan kampus banyak kegiatan yang dilaksanakan seperti seminar, talkshow, short course, loka karya, workshop, praktek usaha, kerjasama usaha, Entrepreneurship Expo, dll
2. Mata Kuliah Kewirausahaan menjadi skala prioritas. Berkaca pada kesuksesan negara maju seperti Amerika dan Eropa yang hampir seluruh perguruan tingginya menyisipkan materi kewirausahaan disetiap mata kuliahnya. Jepang, Singapura dan Malaysia juga menerapkan mata kuliah entrepreneurshipminimal di dua semester. perguruan tinggi diIndonesia meskipun ketinggalan, sudah mulai sadar akan pentingnya kewirausahaan dikampus dan menjadikan mata kuliah kewirausahaan sebagai hal terpenting yang harus diberikan kepada mahasiswa. Perguruan tinggi seperti UNDIP, ITB, UNPAD, IPB, UGM, STMB Telkom, President University, UKSW, Paramadina, UNPAR, Univ Semarang, BSI, BINUS, Tri Sakti, UI dan yang lainnya memberikan materi kewirausahaan tidak sebatas formalitas belaka. Hal ini terlihat dari kesungguhan setiap perguruan tinggi dalam mendesign materi dan menyuguhkan metode pembelajarannya.
Sayangnya dari 3.151 Jumlah Perguruan Tinggi (PT) di Indonesia, dimana sebanyak 3.068 atau 97% merupakan PTS, dan PTN berjumlah 83 atau 3%, hanya sebagian kecil saja (segelintir perguruan tinggi) yang peduli dengan pentingnya kewirausahaan dikampus, padahal untuk merubah mindset masyarakat yang 350 tahun dijajah oleh ”kompeni” untuk bekerja pada company membutuhkan usaha cerdas dan kerja keras dari semua elemen bangsa terutama seluruh lembaga ilmiah dan komunitas intelektual kampus. Untuk itu bukan sesuatu yang salah jika sampai saat ini tujuan sekolah/kuliah dari hampir seluruh generasi muda kita hanya untuk menjadi pekerja atau buruh pada sebuah company.
Melalui media ini, saya mengajak rekan-rekan khususnya sesama akademisi untuk tetap satu ”perahu” dengan kekuatan visi..misi...dan cita-cita mulia bangsa dalam rangka mencerdaskan anak bangsa ini, untuk lahir menjadi entrepreneur-entrepreneur muda sukses layaknya pahlawan-pahlawan di MITyang mampu membangkitkan Amerika dari berbagai keterpurukan. Amiiiiiiiinn.
*Kepala BSI Career Center ( Pusat Pengembangan Karir Bina Sarana Informatika)
Sumber Bacaan dan Referensi :
1. Materi Seminar Entrepreneurship berjudul ”Ten Commandement To Creating Your Own Business”, Pembicara : Valentino Dinsi, MM, MBA, Disampaikan di kampus-kampus BSI, Agustus 2008.
Tidak ada komentar: